Kisah Sebatang Lisong
Hari ini adalah hari tanpa tembakau sedunia. Hari ini adalah puncak selebrasi di mana tembakau bisa dinyatakan sebagai barang ‘haram’ di dunia. Berikut pandangan saya terhadap tembakau atau yang biasa kita jumpai berupa rokok.
Secara personal, saya bukan seorang yang anti rokok. Namun, saya juga bukan lah perokok aktif. Saya memiliki banyak orang yang menikmati tembakau tiap harinya, mulai dari teman, saudara, hingga ayah saya sendiri. Dari sekian banyak orang tersebut, tak sedikit orang yang berupaya menawarkan saya untuk mencoba menghisap tembakau. Alhasil, mereka kalah telak.
Penolakkan saya terhadap rokok tidak didasari secara kuat sehingga bisa saya bilang saya ini bukan anti rokok, melainkan ‘banci’ rokok. Saya bisa merasa demikian karena saya pikir rokok itu tidak enak. Tidak enak dihisap, digado dengan nasi, atau karena saya memang tidak berduit. Itu saja.
Bahkan, saya sering melihat gelagat orang merokok itu sebagai hal yang ‘keren’. Saya sempat beberapa kali berlagak perlente dan ‘sok’ asyik ketika mencoba memainkan rokok di depan peserta kaderisasi himpunan saya. Entah bagaimana otak saya bisa berpikir demikian.
Yang pasti, saya tidak pernah terlalu terganggu dengan keberadaan perokok. Mungkin perokok yang sering terganggu dengan keberadaan saya yang berpikiran aneh. Hanya saja, saya begitu iba melihat teman-teman lain yang begitu risih dengan rokok. Mereka tampak begitu terganggu, benar-benar terganggu.
Merokok adalah pilihan seorang yang mesti dipertanggungjawabkan secara jantan oleh perokok itu sendiri. Jika dia meninggal karena kanker atau menjadi impoten, ya sudah sewajarnya demikian dan tentunya harus menerima itu tanpa ocehan. Jika teman atau keluarganya meninggal karena kanker akibat sering menghisap asap rokok miliknya, ya sudah sewajarnya pula.
12:05 pm • 31 May 2012 • View comments
Menapaki Jejak Republik
Semalam, saya menyaksikan sekemas penampilan seni yang cukup mengundang decak kagum saya. Teater EPIK #4: Mendiang Republik. EPIK adalah salah satu media mahasiswa ITB yang cukup piawai dalam memberikan sudut pandang baru. Dinakhodai oleh Sekolah Bisnis Manajemen ITB, EPIK berkembang menjadi suatu suguhan berupa seni atau media mahasiswa ITB dalam berekspresi. Salah satu unit EPIK yang sedang bergerak cukup hebat ialah unit teater.
Pementasan ini bisa dibilang salah satu wahana baru bagi sebagian orang yang hadir yang terlihat masih awam dalam dunia teater. Hadir juga salah satu seniman tersohor, Sudjiwo ‘Don Corleoncuk’ Tedjo, dan ikut terhanyut dalam kenikmatan teater tersebut. Saya akan berusaha meninjau pementasan ini dalam berbagai aspek.
Dari segi pemasaran, Mendiang Republik dipasarkan secara cukup cerdik. Beberapa teman saya cukup ‘termakan’ dengan publikasi yang begitu gencar. Hal-hal krusial seperti teaser dan pamflet bisa dikatakan cukup mengagresi keinginan menonton. Metode yang digunakan cukup efektif sehingga tiket pun ludes terjual.
Mendiang Republik cukup baik dalam segi penyuasanaan tempat. Teater Tertutup Dago Tea House dirasa punya kapasitas yang mumpuni untuk dijadikan wahana berseni. Adanya ilustrasi di depan gerbang masuk cukup menghadirkan suasana yang mendukung performa panggung, meskipun pencahayaan dan penempatannya masih kurang maksimal. Bentuk tiket pun sudah baik dengan gambaran plot cerita yang cukup unik.
Dalam segi artistik, Mendiang Republik memang memukau. Saya begitu terpana saat tirai dibuka dan menunjukkan setting yang begitu fantastis, begitu nyata. Bambu-bambu yang berdiri tegak itu memberi arti yang dalam dan tak lupa tanah yang berada di bawahnya juga. Kelambu saat beberapa adegan juga menyiratkan arti yang temaram. Jujur, artistik dari Mendiang Republik yang paling membuat saya kagum.
Dari segi jalan cerita, cerita yang dibangun dalam Mendiang Republik cukup sederhana. Dialog-dialog memberikan sentuhan penting dalam perjalanan cerita. Beberapa penonton terlihat kurang nyaman dengan keberadaan dialog-dialog tersebut, namun boleh diakui bahwa diksi dalam dialog-dialog tersebut amat menyentil. Satir yang dihadirkan bisa membuat penonton setidaknya berpikir untuk negeri ini. Dibalut dengan sedikit nuansa Lenong pada beberapa adegan, saya rasa jalan cerita yang dibangun menyuguhkan sesuatu yang rekreatif.
Seni akting yang dipertontonkan dalam Mendiang Republik dimainkan cukup apik. Beberapa aktor masih terlihat kaku, namun beberapa lainnya sudah begitu natural. Saya bisa bilang blocking dan koreografinya sudah cukup menghadirkan nuansa yang dibangun.
Terakhir, secara audio-visual, Mendiang Republik ini cukup berhasil. Arransemen musik yang dihadirkan cukup memberikan penyuasanaan yang baik. Walau begitu, terkadang musik yang dibangun terlalu emosional sehingga nuansanya pun menjadi terlalu kuat. Terlepas dari itu, musik yang dibawakan cukup baik sekaligus menjadi penghibur bagi pirsawan. Pemakaian efek visual seperti Proyektor cukup memberikan khazanah sehingga ikut menuntun kita ke dalam cerita.
Secara garis besar, Teater EPIK #4: Mendiang Republik ini cukup berhasil dalam mengantarkan pesan di dalamnya. Walau Teater EPIK kali ini bukan menjadi favorit saya dibanding Teater EPIK sebelumnya, saya bisa katakan Mendiang Republik ini sukses. Harapan saya adalah agar Teater Epik ini bisa berkembang dan memberikan cakrawala baru dalam dunia seni. Salut!
7:43 am • 28 May 2012 • View comments
“If your journey is hard, it might be worth it.”
— Pragiwaksono, Pandji (2012). Merdeka Dalam Bercanda.
6:20 pm • 30 April 2012 • View comments
“I like what I like. You like what you like. It’s good if we have something in common. It’s okay if we have nothing in common. I don’t need you to like what I like and neither do you. So, live what you like.”
5:45 pm • 10 March 2012 • View comments
And it’s called taste.
Banyak wanita menyisakan waktu dalam sehari untuk menyaksikan sebuah reality show dari negeri ginseng. Banyak pria meluangkan sisa waktu tidurnya hanya untuk melihat sebuah kulit bundar yang disepak oleh 22 orang. Sebagian yang lain begitu bernafsu untuk menciptakan melodi yang indah sesaat sebelum fajar menjelang.
Tiap orang memang memiliki sebuah hasrat untuk melakukan sesuatu hal yang membuat mereka nyaman. They do it for free, sometimes. Meluangkan waktu sejenak atau beberapa jenak itu hal yang sepele untuk memuaskan keinginan mereka dalam menyamankan hati.
And I always feel strange, ketika ada seseorang yang terlalu menghakimi kesukaan orang lain. They fill their hearts only with anxiety of thinking the otherss. I mean, semua orang itu punya kesukaan mereka masing-masing dan jangan salahkan mereka atas itu.
Saya cukup aneh melihat orang yang begitu mencemooh Kangen Band atau SM*SH. Bukan karena saya suka atau ingin memihak mereka, melainkan itu masalah selera. Selera itu adalah hak asasi tiap manusia. Terlebih lagi, sebagian orang begitu murka dengan selera orang lain tersebut. Terlepas masalah kualitas atau konten dari hal yang disukai, konfrontasi dalam hal selera itu haram. Menghina tim sepak bola lain atau sekadar mengejek selera berpakaian orang, itu bukan hal yang patut diapresiasi.
Merupakan kebebasan tiap orang untuk memberikan pendapatnya terhadap kesukaan orang, namun sungguh begitu membinasakan ketika seseorang mencoba merusak kesukaan orang tersebut. Sepanjang itu tidak mengganggu ketentraman anda sendiri untuk menjalani kesukaan anda, let’s called it ‘taste’.
5:58 pm • 7 March 2012 • View comments